It’s All About News

Mereka Tergadai di “Camui” Tambang

leave a comment »

Banyak pekerja tambang inkonvensional di Bangka Belitung adalah anak-anak dan remaja. Mereka memilih putus sekolah untuk mencari penghasilan. Salah satunya adalah Wir (19), penambang timah dengan sistem apung di Jebus Laut, Jebus, Bangka Barat, awal Maret lalu. (Kompas/Benny Dwi Koestanto)

Selasa, 17 Maret 2009 | 03:10 WIB

Oleh : BENNY DWI KOESTANTO

 

Pemeo uang timah adalah uang panas sudah melekat di benak warga Kepulauan Bangka Belitung. Sindiran tersebut muncul karena orang bisa cepat kaya dari timah, tetapi begitu cepat pula akan jatuh miskin.

Kondisi tersebut dianggap lumrah hingga tanpa sadar mereka kehilangan arti tentang masa depan.

Libur tengah semester empat tahun lalu menjadi titik balik perjalanan hidup Iman (18). Ia menolak kembali ke rumah orangtuanya di Pangkal Pinang dan keluar dari sebuah SMP negeri di kota itu, tiga bulan sebelum ujian akhir. Namun, ia bulat memutuskan diri menjadi penambang timah inkonvensional (TI) di sebuah camui (lubang penggalian timah) Desa Parit Tiga, Jebus, Bangka Barat, tempat bibinya tinggal. ”Siapa tak tertarik dengan uang Rp 500.000 per hari. Kerja macam mana bisa menghasilkan duit segitu,” kata Iman, awal Maret lalu.

Awalnya, Iman dan dua tetangga bibinya yang seusia dirinya hanya mencari pasir timah di tailing milik Ahong (bukan nama sebenarnya), seorang pemilik tambang TI darat terbesar di desa itu. Dari pasir yang telah ditambang, mereka bisa mendapatkan pasir timah hingga 5 kilogram sehari atau senilai Rp 500.000 kala itu. Setelah dibagi dengan dua rekannya, ia mendapat bagian Rp 150.000.

Iman benar-benar girang. Hampir tiap hari ia giat mencari pasir timah hingga badannya legam dan musim liburan usai. Pada akhir liburan selama dua pekan itu, ia ingat benar, ia mampu menyimpan Rp 1 juta. Tekadnya untuk tak pulang ke Pangkal Pinang dan keluar sekolah semakin bulat saat Ahong menerimanya bekerja di tambang.

Selain uang yang dihasilkannya bisa meningkat hampir lima kali lipat dari saat mencari timah di tailing, keahlian Iman pun bertambah. Ia jadi tahu mengoperasikan mesin isap hingga ekskavator untuk mengeduk tanah. Ia juga lumayan ahli mendeteksi sebuah wilayah mengandung banyak timah atau tidak. Tak heran ia tahu sebagian besar titik TI darat di kawasan Jebus, 100 kilometer arah barat Kota Pangkal Pinang itu. Mulai dari Ketap, Kapit, Semulut, Bukit, hingga Cupat. Hampir semua pemilik TI di kawasan itu dikenalnya.

Sekitar 20 kilometer arah barat Parit Tiga, di kawasan pesisir Desa Jebus Laut, kondisinya mirip. Anak-anak dan remaja usia belasan tahun dengan mudah ditemui di tengah aktivitas TI apung di tengah-tengah laut. Kulit mereka hitam terbakar matahari. Jika ditemui seusai menambang, mata mereka merah setelah menyelam, mengisap pasir timah di dasar samudra.

”Beginilah hidup kami, menyelam dan mengisap tiap hari. Hasilnya besar, tapi risiko juga tak kalah besar. Banyak teman mati di laut,” kata Wir (19).

Wir hanya lulusan SD. Gelimang rupiah dari aktivitas penambangan timah lebih menarik dibandingkan dengan meneruskan sekolah. Saat sedang mujur, ia mengaku mampu membawa uang hingga Rp 2 juta sekali turun ke laut bersama sejumlah pekerja tambang dewasa, pukul 08.00-17.00. Semua itu berlaku ketika harga timah dunia sedang tinggi-tingginya 2-3 tahun lalu.

Ironisnya, Iman dan Wir mengaku tidak pernah menyisihkan uang untuk ditabung. Penggunaan uang hasil kerja di TI itu mereka habiskan untuk bersenang-senang. Hampir tiap malam mereka pergi ke kafe-kafe yang bermunculan di sekitar lokasi penambangan maupun di pinggir Kota Pangkal Pinang yang rajin mereka datangi sebulan dua kali. Selain minum-minuman keras—pada usia belia—mereka juga sudah merasakan kelamnya dunia prostitusi. Uang yang mereka raih dengan relatif mudah itu pun selalu amblas.

Dinamika penambangan timah rakyat di Bangka Belitung sedemikian kompleks. Selama puluhan tahun masyarakat sekitar hanya dapat menonton aktivitas penambangan yang dilakukan negara melalui PT Timah. Perpaduan rasa lapar dan dendam kepada negara diwujudkan dengan menambang sepuas-puasnya ketika pintu penambangan dibuka selebar-lebarnya. Kaum tua di Bangka Belitung masih ingat betul tersiksanya batin mereka melihat hasil bumi mereka dibawa ke Jakarta. Yang mencoba menambang timah atau mengambilnya di lahan penambangan milik PT Timah pasti dihukum, bahkan bisa mati tanpa proses pengadilan.

Namun, bagi anak-anak usia sekolah, sejarah seperti itu tak terlihat. Mereka umumnya terseret pada pilihan pragmatis, mendapatkan uang besar dalam waktu singkat. Konsekuensinya pun nyaris tak terpikirkan. Ironisnya, anak-anak seperti Iman dan Wir jumlahnya banyak di Bangka Belitung.

Departemen Pendidikan Nasional mencatat, ketika aktivitas penambangan timah rakyat di sana marak pada periode 2002-2006, jumlah anak putus sekolah tingkat SMP-SMA mencapai 1.600 anak per tahun (total sekitar 6.000 anak). Tahun 2005-2006, ada 1.000 anak usia SMA putus sekolah.

Kini, kala harga timah dunia merosot (Rp 35.000 per kg dari penambang kepada pengepul) dan aktivitas TI darat maupun apung ilegal terus diawasi dan diberantas polisi, kehidupan mereka serasa di ujung tanduk. Untuk kembali ke sekolah, mereka malu dan merasa sudah tak ada gunanya lagi. Di sisi lain, mereka ”tak bisa bergerak” dengan pilihan berkalang timah itu.

Wir merasa lebih baik. Sejak menikah dengan Resti dan dikaruniai putri, Keza, dua tahun belakangan, ia bisa menabung hingga puluhan juta rupiah dari aktivitas menambang timah. Uang itu akan digunakan untuk membangun rumah di sepetak tanah warisan keluarga Resti.

Sedangkan Iman terus saja gelisah. Hampir setiap malam ia berkumpul bersama teman sebaya sesama pekerja TI. Mereka berbagi informasi soal adanya kerjaan di TI kecil yang kembali marak di Bangka Barat dan Bangka induk. Telepon genggam yang biasa digunakannya untuk mendapat panggilan kerja di TI sudah terjual untuk membeli minuman keras. Hidup dan masa depannya tenggelam, tergadai di camui yang berserakan di mana-mana di bumi Laskar Pelangi.

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/17/03101681/mereka.tergadai.di.camui.tambang

Written by didit

19 Maret, 2009 pada 5:41 pm

Ditulis dalam timah

Tagged with ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: