It’s All About News

Lebih Dekat dengan Bahasyim Assifie (1)

leave a comment »

DITAHAN - Bahasyim Assifie saat ditahan Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Jumat (9/4). Mantan pejabat Ditjen Pajak ini menjadi tersangka kasus pencucian uang selama menjabat sebagai pegawai pajak.

Tetangga Ingat Pelitnya

edisi: 13/Apr/2010 wib

NAMA Bahasyim Assifie kini menjadi pergunjingan nasional setelah kasus Gayus HP Tambunan terbongkar. Keduanya sama-sama pegawai pajak. Kesamaan lainnya, mereka sama-sama memiliki rekening berisi puluhan miliar rupiah yang diduga dari hasil kejahatan saat mereka bertugas menjadi pegawai pajak.
Untuk mengetahui siapa Bahasyim Assifie selengkapnya, Persda Network berhasil menemukan kediaman Bahasyim Assifie di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan. Bahasyim yang mempunyai dua rumah mewah di Menteng, satu rumah megah di Bekasi, memiliki villa dan tanah seluas 50 hektare di Tapos, Depok, ternyata lebih banyak menetap di Kalibata.

Warga sekitar Bahasyim di Kalibata, mengingat pegawai pajak dengan jabatan terakhir Kepala Kantor Pemeriksa Jakarta Tujuh Ditjen Pajak ini dengan dua sifat. Pelit dan rakus.

“Dia itu terlalu rakus. Makanya sekarang lagi muntah karena kekenyangan,” komentar tetangga yang tak mau disebutkan namanya saat ditemui di dekat kediaman Bahasyim, Senin (12/4).

Warga kesal dengan Bahasyim yang memiliki Rp 66 miliar, namun pelitnya luar biasa. Untuk menyumbang ke masjid yang berdiri di belakang rumahnya, Bahasyim yang kini ditahan di Rutan Polda Metro Jaya, sangat perhitungan.

“Masak nyumbang untuk pembangunan masjid saja hanya Rp 50 ribu. Padahal sudah kaya raya kayak gitu,” ungkap Samin, tokoh keamanan di lingkungan tempat tinggal Bahasyim.

“Makanya, dia itu sekarang lagi muntah karena kekenyangan. Kita juga tahu lah kalau Tuhan itu kan Maha Adil. Sekarang itu ibaratnya balasan atas perbuatan dia sendiri,” tambah Yongky, warga Kalibata saat ditemui di pangkalan ojek tidak jauh dari kediaman Bahasyim.

Pajak Warga melihat peningkatan kekayaan Bahasyim seiring aktivitasnya di dunia perpajakan. Hal ini berawal dari tindakan Bahasyim membangun ulang rumah yang dulu dihuninya bersama orangtuanya. Orangtuanya sudah tinggal di rumah tersebut sejak tahun 1960-an. Dia turut memperluas bangunan itu dengan membeli sebidang tanah yang ada di sebelahnya.

“Awalnya seperti itu. Baru kemudian sekitar tahun 90an, dia (Bahasyim) membeli rumah yang ada di depannya dan lalu dibangun kos-kosan yang cukup besar seperti yang mas (wartawan, red) lihat,” katanya.

Sifat pelit Bahasyim dibenarkan salah seorang tetangga yang cukup dekat dengannya ketika awal-awal meniti karir. Pria yang enggan disebutkan namanya itu sempat melayani Bahasyim untuk sesekali mengantarnya ke seminar-seminar. Bahkan dia juga ikut membangun kebun yang kini menjadi perusahaan jual-beli ikan laut di Tapos, Depok, Jawa Barat.

“Kalau lagi ngantar seminar, dia seakan nggak peduli sama saya. Saya nggak dikasih duit untuk makan atau apapun. Tapi saya pintar, begitu dia keluar dan minta diantar ke tempat lain, saat jalan dan ada rumah makan, saya langsung belok saja. Dan dia tidak berani menolak,” kata pria yang dulu aktif di korps TNI AD itu, saat ditemui di kediamannya, Senin (12/4).

“Saya dekat dengan dia pas awal-awalnya dia ngebangun rumah yang sekarang ini. Kadang-kadang saya juga diminta ikut dengan dia untuk nanam pohon di kebunnya yang katanya sekarang jadi perusahaan yang dikelola anaknya, si Wawan,” tambahnya.

Lebih lanjut, ayah tiga anak ini menyebutkan sifat pelit Bahasyim tak berhenti ketika dia sudah memiliki rumah mewah dan puluhan hektare kebun. Pasalnya, dia sempat diminta menunggui kediaman Bahasyim tanpa diberikan apapun. Kegiatan itu dilakukannya saat Bahasyim mudik ke kampung halamannya di Sidoarjo, Jawa Timur.

“Seperti kalau ngantar seminar, saya juga tidak kalah pintar. Kalau di rumah itu saya menemukan apa saja yang bisa dimakan, ya saya makan. Kalau ada parcel, saya sikat aja,” tegas pria yang pensiun pada tahun 1995.

“Pokoknya dia itu orangnya dablek (tidak peduli) banget deh. Dan saya hanya sekitar setahun berhubungan dengan dia. Saat saya pulang dari tugas di daerah, selama kurang lebih empat tahun, dia seperti tidak kenal lagi sama saya. Saya sih nggak peduli lah. Lagian orangnya juga seperti itu (dablek),” kata pria yang sempat menampung keluhan Ketua RT setempat tentang sifat pelit Bahasyim.

“Ketua RT pernah ngeluh ke saya. Katanya susah banget untuk minta sumbangan ke Bahasyim. Udah nyumbangnya enggak seberapa, nunggunya juga lama. Belum lagi nungguin dia mandi sambil nyanyi-nyanyi,” tuturnya. (Persda Network/mun)

Sumber :
http://cetak.bangkapos.com/etalase/read/31659.html

Written by didit

14 April, 2010 pada 8:26 pm

Ditulis dalam 2010

Tagged with ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: