It’s All About News

Diancam Hukuman Mati

leave a comment »

JALANI PEMERIKSAAN - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) non aktif, Antasari Azhar (tengah) dikawal ketat pihak kepolisian saat tiba di Ditreskrimum Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (4/5). Antasari Azhar menjalani pemeriksaan sebagai saksi terkait kasus pembunuhan Dirut PT Putra Rajawali Banjaran, (alm) Nasrudin Zulkarnaen. (Persdanetwork/Bian Harnansa)

JALANI PEMERIKSAAN - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) non aktif, Antasari Azhar (tengah) dikawal ketat pihak kepolisian saat tiba di Ditreskrimum Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (4/5). Antasari Azhar menjalani pemeriksaan sebagai saksi terkait kasus pembunuhan Dirut PT Putra Rajawali Banjaran, (alm) Nasrudin Zulkarnaen. (Persdanetwork/Bian Harnansa)

* Istrinya Mencoba Tegar
* Rani Dalam Perlindungan Polisi

edisi: 05/May/2009 wib

JAKARTA, BANGKA POS — Antasari Azhar Senin (4/5) resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan bos PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen. Ketua KPK non aktif ini dikenai pasal 340 KUHP dengan ancaman hukuman mati.

Antasari menempati  blok A kamar nomor 10  ruang tahanan Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya. Pukul 20.30 istrinya, Ida Laksmiwati datang menjenguk.

Setengah jam kemudian menyusul tiga orang pria membawa tas dan sebuah kasur busa untuk tidur ketua KPK non aktif itu. Salah seorang dari tiga pria itu juga membawa kue dan buah-buahan.

Seusai menjenguk suami, Ida mengatakan, Antasari meminta dirinya tabah. “Tuhan tidak akan tidur. Kebenaran akan terungkap, tunggu saja,” ujar Ida mengutif suaminya.

Ida yang didampingi pengacaranya mengatakan, suaminya meminta dia tetap tegar menghadapi cobaan ini.

“Saya akan berusaha tegar, mendorong suami agar tidak surut menghadapi cobaan berat ini,” katanya.

Kapolda Metro Jaya Irjen Wahyono dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta,  mengatakan, penerapan pasal 340 KUHP kepada para tersangka sudah berdasarkan hasil penyelidikan dengan bersandar pada bukti-bukti kuat.  “Sudah dipertimbangkan penyidik dan berdasarkan keterangan yang digali dari para saksi,” kata Kapolda.

Dalam  jumpa pers itu penyidik juga menampilkan sejumlah barang bukti, yakni senjata api jenis Revelover, puluhan lembara uang pecahan Rp50 ribu, sepeda motor Yamaha Scorpio, proyektil enam buah, dua buah selongsong peluru, helm, dan beberapa buah handphone.

Selain Antasari, polisi telah menetapkan delapan tersangka lainnya dalam kasus pembunuhan Nasrudin. Mereka adalah Sigid Haryo Wibisono (Komisaris Utama PT PIM), Kombes Wiliardi Wizar (mantan Kapolres Jakarta), Heri Santosa (pengemudi Scorpio), Daniel Daen (penembak/eksekutor), Fransiskus Tadon Keran alias AMSI (pengendali lapangan), Hendrikus Kia Walen alias Hendrik (pemberi order kepada Fransiskus), Eduardus Ndopo alias Edo (penerima order pembunuhan dari Wiliardi), dan Jerry Hermawan LO (penghubung Edo kepada Wiliardi).

Antasari dijerat dengan pasal 340 KUHP karena diduga ia sebagai aktor intelektual di balik pembunuhan berencana terhadap Nasrudin.

Hal senada dikemukakan Diraektur Reskrimum Polda Metro Jaya, Kombes M Iriawan kepada wartawan. Menurut Iriawan, alasan penahanan Antasari dianggap cukup berdasarkan bukti-bukti dan keterangan saksi-saksi. Meski demikian, kata Iriawan, pihaknya masih menyelidiki keterlibatan Antasari dalam kasus pembunuhan Nasrudin. Ia mengakui, Antasari cukup kooperatif saat dimintai keterangan.

Setelah ditetapkan sebagai tersangka, Antasari seusai menjalani pemeriksaan hampir tujuh jam, sejak pukul 16.40 kemarin resmi ditahan. Iriawan belum mau berkomentar banyak mengenai barang bukti foto Antasari bersama Rani Juliani, namun dia berjanji akan memaparkan foto-foto yang dimaksud pada saat yang tepat. Kepada penyidik, Antasari mengakui menyuruh Kombes Wiliardi Wizar untuk mencari eksekutor.

“Dalam pemeriksaan itu salah satunya dia (Antasari) mengakui menyuruh WW untuk carikan eksekutor,” ujar seorang penyidik.

Dalam pemeriksaan, Antasari juga dicecar mengenai hubungannya dengan Sigid Haryo Wibisono. Sigid diduga sebagai penyandang dana dalam aksi pembunuhan Nasrudin. Iriawan mengatakan, dalam pemeriksaan kepada Antasari diajukan 24 pertanyaan. “Tadi ada 24 pertanyaan,” ujar Iriawan.

Mengaku

Dalam pemeriksaan, Antasari mengaku pernah bertemu dengan caddy (pemungut bola) golf Modernland, Tangerang, Rhani Juliani (sesuai identitas di KTP). “Dia ngaku pernah bertemu dengan Rani di hotel GM kawasan Kebayoran Baru kamar 802,” ujar penyidik.

Dari hasil pemeriksaan penyidik terhadap tersangka lainnya, yaitu Wiliardi Wizar dan Sigid Haryo Wibisono diperoleh keterangan bahwa yang mempunyai keinginan untuk menghilangkan nyawa Nasrudin adalah Antasari.

Sebab, Nasrudin sering meneror dan memeras Antasari dengan ancaman akan membongkar perselingkuhannya dengan istri siri Nasrudin, Rhani di Hotel GM sekitar bulan Mei 2008.

Karena ancaman tersebut dirasakan sudah sangat mengganggu pribadi maupun istri Antasari, maka Sigid menghubungi Wiliardi meminta bantuan pembunuhan terhadap Nasrudin.

Kapolda Metro Jaya Irjen Wahyono menegaskan bahwa pelaksanaan pertemuan perencanaan pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen  tidak dilaksanakan di Mabes Polri. “Saya nyatakan itu tidak benar,” ujarnya.

Kapolda menuturkan, terdapat tiga orang tersangka yang menjalani pertemuan-pertemuan untuk eksekusi. Tiga orang tersebut yakni tersangka Edo, Jeri, dan Wiliardi Wizar.

Wiliardi Wizar adalah seorang anggota Polri yang berpangkat Komisaris Besar Polisi. Wiliardi menjabat salah satu kepala sub direktorat Badan Pembinaan dan Keamanan Mabes Polri.

Rencananya, pada Juli mendatang, ia akan berpangkat bintang satu atau Brigadir Jenderal. Ia pernah menjabat sebagai Kapolrestro Jakarta Selatan hingga 2007. Masjid di Polrestro Jakarta Selatan yang dibangun pada masa pimpinannya diberi nama Nur Abu Wizar.

Dalam kasus pembunuhan Nasrudin, Wiliardi diduga menjadi penerima dana dari pengusaha media Sigid dan menjadi perantara bagi pelaksana eksekusi di lapangan.

Kepala Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Mabes Polri Irjen Oegroseno mengatakan, pihaknya belum menentukan sanksi apa yang akan dijatuhkan  terhadap Wiliardi.

Siapkan Penangguhan

Antasari berencana mengajukan penangguhan penahanan. Surat permohonan penangguhan penahanan, akan disusun oleh enam  pengacaranya yakni Maqdir Ismail, Juniver Gisang, Hotma Sitompul, Ary Yusuf Amir, Deni Kailimang dan M Assegaf.

“Kita akan meminta dulu penjelasan dari penyidik mengenai penahanan ini. Untuk mengajukan surat permohonan penangguhan penahanan, semuanya tergantung  Pak Antasari. Kita akan bicarakan dengan beliau lebih dulu,” tegas Hotma Sitompul di Polda Metro Jaya, Senin (4/5).

Magdir Ismail mengatakan, bahwa tim pengacara sudah mengusulkan kepada penyidik agar penahanan Antasari dipisahkan dari tahanan lainnya. “Sudah disetujui,” tegas Maqdir. Saat ini, Antasari ditahan Blok A 10 ruang tahanan Narkoba Polda Metro Jaya.

Kaget

Maqdir menjelaskan, saat mendampingi Antasari diperiksa, terdapat dua sesi pemeriksaan. Pada pemeriksaan sesi pertama sebelum istirahat makan siang, Antasari diperiksa sebagai saksi. Sedangkan sesi kedua atau selepas makan siang, Antasari diperiksa sebagai tersangka.

Saat pemeriksaan, Antasari diperlihatkan tiga foto oleh penyidik untuk dikenalinya atau tidak. Ketiga foto adalah  foto almarhum Nasirudin, Sigid Haryo Wibisono dan Rani Juliani. “Antasari pun mengaku kenal dengan ketiga orang tersebut,” tegas Maqdir.

Menurut Maqdior,  pemeriksaan sebagai tersangka belumlah masuk ke substansi materi. Para penyidik baru menanyakan seputar nama dan biodata awal serta belum ada substansi materi. Selanjutnya, terkait dengan kamar 808 di Grand Malaka juga belum terungkap dalam proses pemeriksaan tersebut. Termasuk dengan bukti rekaman video dan SMS.

“Hingga kini itu belum kami ketahui dan kami juga belum mengetahui apa motif hingga Pak Antasari ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan dalam kasus tersebut,” imbuhnya.  Maqdir juga mengungkapkan bahwa Antasari sempat kaget saat ditetapkan sebagai tersangka dan hendak ditahan oleh penyidik.

Girang

Para terdakwa kasus korupsi dan suap yang pernah ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersorak gembira ketika mengetahui Antasari Azhar dijaring sebagai tersangka dan dijebloskan ke tahanan terkait kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, Senin (4/5).

“Itu karma bagi orang yang berkehendak zalim terhadap diri saya,” ujar Urip Tri Gunawan, mantan jaksa yang dihukum 20 tahun penjara karena menerima suap Rp 6 miliar dari Arthalyta Suryani. Menurutnya tuntutan 20 tahun yang diajukan jaksa penuntut umum dari KPK dan dikuatkan Mahkamah Agung (MA) membuat Urip sakit hati.

“Masak saya dituntut dan dihukum 20 tahun, salah saya apa. Saya merasa dizalimi. Tidak ada satupun uang negara yang saya korupsi, tapi saya divonis begitu berat,” tegas Urip yang kini menghuni sel tahanan markas Brimob Kelapa Dua, Depok.

Saat ini, terdapat lima terpidana dan terdakwa kasus korupsi penghuni sel BrimobKelapa Dua, yakni Urip Tri Gunawan, Aulia T Pohan (besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono), Hamka Yamdu (anggota DPR), mantan Kepala Biro Gubernur BI Rusli Simanjuntak dan mantan Deputi Gubernur BI Maman Soemantri.  “Wah, semuanya happy banget. Ketawa-tawa riang. Malah ada yang makannya jadi banyak,” ujar sebuah sumber. Ketika ditanya komentar para penghuni tahanan Brimob Kelapa Dua,  Urip juga mengatakan mereka juga berpendapat seperti dirinya.

Penahanan terhadap Antasari dilakukan sekitar pukul 18.00.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Wahyono menyatakan status Antasari sebagai tersangka, berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap tersangka Kombes  Pol Wiliardi Wizar, Sigid Haryo Wibisono, dan sejumlah foto.

Antasari menghuni sel tahanan narkoba Polda Metro Jaya. “Karena di tahanan punya kita  banyak tahanan KPK. Jadi tidak kita satukan,” ujar Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol M Iriawan.

Ia menambahkan, penahanan Antasari tidak perlu menunggu waktu 1×24 jam, karena alat buktinya sudah cukup. Apa saja buktinya? “Saksi, petunjuk, surat, pokoknya banyak deh,” jawabnya.

Dalam kesempatan itu Kapolda  membantah informasi yang menyebut rapat perencanaan pembunuhan terhadap Nasrudin  dilaksanakan di sebuah ruang di Mabes Polri. “Bisa saya tegaskan informasi itu sama sekali tidak benar,” kata Wahyono. (Persda Network/Wartakota/ ded/seb/yls/cw6/mun/ugi/coi)

Sumber : http://cetak.bangkapos.com/etalase/read/20797/Diancam+Hukuman+Mati.html

Iklan

Written by didit

6 Mei, 2009 pada 9:23 pm

Ditulis dalam antasari azhar

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: