It’s All About News

Gubernur Optimis Tin Chemical Dibangun di Babel

with one comment

* Lebih Besar dari Cilegon

edisi: 22/Feb/2009 wib

GONJANG-ganjing tentang ketidakpastian pembangunan Pabrik Tin Chemical di Tanjung Ular, Muntok, Kabupaten Bangka Barat mengundang pro-kontra.

Sejumlah tokoh Bangka Belitung  di Jakarta menuding Dirut PT Timah Tbk Wachid Usman telah ingkar janji lantaran proyek industri hilir PT Timah itu dibangun di Cilegon Provinsi Banten, bukan di Tanjung Ular Muntok.

Tak hanya tokoh Babel di Jakarta, Walikota Pangkalpinang, Zulkarnain Karim, dalam beberapa kesempatan juga mempertanyakan kepastian pembangunan Tin Chemical di Tanjung Ular. 

Orang nomor satu di Pemkot Pangkalpinang ini, Sabtu (21/1) siang kemarin kembali menyatakan, awalnya PT Timah berencana membangun pabrik Tin Chemical di Muntok, bahkan rencana itu sudah disosialisasikan sejak Februari tahun lalu.

 “Akan tetapi PT Timah mengaku tekendala masalah pembebasan lahan, dan tiba-tiba pembangunan dialihkan ke Cilegon,” ungkapnya.

Namun keragu-raguan sejumlah tokoh Babel tersebut kembali dinetralisir oleh pihak PT Timah melalui Kepala Administrasi Anhar Ramli, Jumat (20/2) siang. 

Kata Anhar, pembangunan Tin Chemical di Tanjung Ular tetap jalan sesuai rencana, dan tahapan pembangunan akan terus berjalan. Sedangkan mengenai kendala-kendala yang ada, satu persatu dapat diatasi.

Setidaknya, polemik seputar Tin Chemical mulai meruncing tatkala dalam pertemuan pihak PT Timah Tbk dengan tokoh Babel di Jakarta, Jumat (13/2) pekan lalu, tidak menghasilkan kesepakatan dan kejelasan. 

Pihak PT Timah yang di-back up langsung oleh Wachid Usman dan didampingi Direktur PT Timah Industri, Purwijayanto serta Sekretaris PT Timah Tbk Abrun Abu Bakar, sengaja mengundang para tokoh Babel di Jakarta untuk berdiskusi seputar problematika pembangunan Tin Chemical itu. 

Tokoh Babel diwakili Rusli Rachman yang juga Anggota DPD RI didampingi Rasio Ridho Sani sedikit ‘meradang’ ketika Wachid Usman tidak bisa menunjukkan site plan atau blue print yang memastikan bahwa pabrik Tin Chemical di Tanjung Ular merupakan bagian dari rencana pembangun pabrik serupa di Cilegon, Banten. 

Sebelumnya, pihak  PT Timah Tbk melalui  perwakilan Direksi PT Timah Gatut Hari Prasetyo bersama Direktur PT Timah Industri, Purwijayanto, Dadang Mulyadi dan Bambang HP, dalam rapat gabungan dengan Pemkab Bangka Barat di Gedung DPRD Bangka Barat, Kamis (12/2) silam, memberikan sinyal positif kalau industri hilir bakal dibangun di Tanjung Ular Muntok Bangka Barat.

“PT Timah sangat serius mengembangkan wilayah dimana PT Timah beroperasi. Dengan berdirinya industri hilir di Tanjung Ular kita tidak lagi tergantung dunia. Kendala administrasi tidak ada, hanya kami minta izin agar PT Timah melihat floating tanah masing-masing yang ada di lapangan sehingga lebih akurat. Kalau ditanya kesiapan saat ini kita sudah sampai Amdal (Analisis mengenai Dampak Lingkungan),” ujar Gatut ketika itu.

Tapi fakta kemudian berbalik, sejumlah tokoh Babel yang semula menyambut positif rencana luhur PT Timah Tbk untuk membangun Tin Chemical di Tanjung Ular berbuntut dengan kecaman.

Jika Tin Chemical dibangun di Cilegon mungkin merupakan hal yang logis bagi Wachid dan PT Timah Tbk. 

Tapi masalahnya, lanjut Rusli, sangat tidak logis bagi masyarakat Babel karena investasi sebesar Rp 250 miliar tidak ditanamkan di daerah mereka. Padahal, bukankah timahnya ada di Babel?

Gubernur Optimis

Berbeda dengan pendapat tokoh Babel lainnya, Gubernur Bangka Belitung, Eko Maulana Ali justeru optimis kalau Tin Chemical akan dibangun di Babel.  Hanya saja, kata Eko, pembangunan Tin Chemical di Babel belum pasti akan dibangun dimana, bisa di Bangka bisa di Belitung. 

Namun yang jelas, lanjut Eko, Tin Chemical di Cilegon hanya dibangun dalam skala kecil, sementara di Babel akan dibangun skala besar.

“Harapannya teknologi ini diserap dulu oleh anak negeri ini. Setelah itu baru dibangun di Bangka atau di Belitung dalam skala yang lebih besar. 

Orang Bangka jangan juga maksa harus di Bangka, mungkin bisa di Belitung,” ujar Eko kepada wartawan saat meninjau Balai Benih Ikan Air Tawar, di Desa Mempaya Kecamatan Manggar Kabupaten Belitung Timur, Selasa (17/2) lalu.

Sejak awal menurut gubernur, dirinya yang mendorong PT Timah untuk bangun pabrik Tin Chemical. PT Timah sudah merekomendasikan dan menindaklanjutinya dengan melakukan studi banding ke luar negeri dan akan dibangun. 

Namun ternyata terkendala dengan masalah listrik dan pembebasan lahan. Sementara tenaga ahli yang membantu PT Timah harus dibayar oleh PT Timah. Untuk itu PT Timah, membangun skala kecil dulu di Cilegon dan skala besar di Babel.

Pemerintah daerah mendorong agar PT Timah dapat mempercepat melakukan percobaan dalam skala kecil, sehingga dari situ bisa menambah ilmu pengetahuan. 

Setelah itu, suatu saat nanti akan membangun dalam skala besar dan lengkap berikut turunannya, tidak hanya chemical, seperti solder dan pasta.

“Jadi kita harus bijaksana, jangan emosional, segala sesuatu ada payung hukumnya. Lalu kita lihat alasan-alasannya masuk apa nggak. Ini kita belum tahu betul, ternyata sudah banyak komentar. Jadikan susah, saya yang betul mengetahui tidak banyak komentar, orang luar yang jauh tidak mengerti persoalan berkomentar, akhirnya suasana menjadi  keruh,” imbuh Eko.

Pernyataan Eko juga diperkuat oleh pihak PT Timah melalui Kepala Administrasi, Anhar Ramli. Anhar bahkan memastikan kalau lokasi pembangunan Tin Chemical di Babel dibangun di Tanjung Ular. 

“Mengenai adanya kesan tarik ulur rencana pembangunan di tempat tersebut (Tanjung Ular) itu tidak betul.  Kita sudah bulat untuk membangun di Babel ini setelah pabrik rintisan di Cilegon dilakukan,” kata Anhar, ketika ditemui harian ini di ruang kerjanya, Jumat (20/2) siang.

Ditanya apakah Cilegon lebih memadai jika dibandingkan Babel, menurutnya pertanyaan itu kurang relevan. Karena, bagaimanapun Cilegon sudah lebih dahulu merintis kawasan industri dan segala fasilitas pendukungnya sudah lengkap. 

Kendati demikian, PT Timah tetap komit untuk membangun di daerah ini. “Babel kan daerah kita sendiri, untuk itu kita tetap jalan sesuai rencana. Saya kira nanti masyarakat akan mendapat jawabannya sendiri setelah semuanya berjalan,” tegas Anhar.

Untuk saat ini, lanjut Anhar, Cilegon lebih baik, namun nanti setelah sarana dan prasarana di Babel ini siap, kedua daerah ini sama-sama layak untuk pembangunan sebuah industri. 

Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. “Saya minta semua masyarakat membangun situasi kondusif sehingga daerah ini kompetitif dalam menarik investor,” ujarnya.

Mencuatnya kritikan yang tertuju kepada PT Timah terkait pembangunan Tin Chemical, kata Anhar, pihaknya siap menerima kritikan dan masukan baik dari masyarakat maupun tokoh. 

“Polemik itu adalah sebuah ekspresi kecintaan terhadap daerah. Namun jangan lupa PT Timah adalah bagian dari sejarah pulau ini yang tidak dapat dipisahkan. PT Timah tetap memiliki hubungan emosional yang tinggi dan tanggungjawab yang mendalam dalam pembangunan daerah,” papar Anhar.

Investasi Besar

Sementara itu, Welly Abdullah salah seorang pengusaha di Babel, memprediksi jika pembangunan Tin Chemical di Babel dengan investasi Rp 250 miliar positif dilakukan, tentu akan berdampak luar biasa bagi daerah ini, baik dari penyerapan tenaga kerja maupun perputaran uang.

“Bayangkan saja, jika Rp 250 miliar itu digelontorkan di Babel, maka perputaran uang itu bisa saja perputarannya mencapai lebih dari investasi yang ditanamkan,” tandasnya.

Welly mengumpamakan, satu pabrik menginvestasikan Rp 100 miliar, itu bukan hanya 100 miliar tok. Tetapi, kata dia, setiap hari dan setiap bulan uang itu akan bergulir. 

“Karena itu patut diacung jempol kepada mantan Dirut PT Timah terdahulu yang memindahkan kantor pusatnya dari Jakarta ke Babel,” ujarnya. (spa/mun/bev)

http://cetak.bangkapos.com/etalase/read/17981.html

Written by didit

22 Februari, 2009 pada 3:26 pm

Ditulis dalam 2008

Tagged with , ,

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Perlu diadakan semacam studi tentang kebijakan investasi PT.Timah Tbk, yang nanti pada akhirnya akan menjadi parameter manajemen serta stake holder lainnya dalam menilai kebijakan investasi yang diambil oleh PT.Timah, Tbk, sehingga tidak menimbulkan hal2 yang sifatnya kontradiktif. Studi yang saya usulkan adalah “Analisis Kebijakan Investasi PT.Timah, Tbk , Dalam rangka menghadapi potensi krisis Ekonomi di Provinsi Bangka Belitung” dengan Menggunakan metode partispatif masyarakat dimana dananya diambil dari CSR yang ada pada PT Timah. Sehingga apa yang menjadi hasil kajian tersebut dapat kita jadikan semacam blue print kebijakan investasi PT Timah Ke depan.

    Zuriyat Ifada

    23 Februari, 2009 at 12:06 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: