It’s All About News

Hanya Berpegang Tali

leave a comment »

Laporan Wartawan Bangka Pos, M Ismunadi

HEMPASAN ombak membuat pemuda itu merasa was-was. Hatinya pun semakin berdetak kencang tatkala kapal laut berwarna loreng yang ditumpanginya mulai terasa semakin terombang-ambing. Bermodalkan tali dan penjagaan sederet pria berbadan tegap yang berdiri di pinggiran kapal, pemuda yang berstatus mahasiswa tersebut berusaha menghilangkan kerisauannya dengan impian berkumpul kembali bersama keluarga. Syukurnya, doa itu terkabul.

Begitulah yang dirasakan Anton, mahasiswa asal Bangka, saat menumpang kapal perang yang menjadi armada alternatif mudik lebaran. Bersama ratusan mahasiswa dan masyarakat Bangka lainnya, Anton menumpang kapal perang yang diperbantukan melayani arus mudik menuju pelabuhan Pangkalbalam, Pangkalpinang.

“Waktu itu air laut mulai menggenangi lantai yang hanya berlantaikan papan. Sementara kita berada digeladak kapal yang tidak ada pembatasnya. Dengan memegang tali dan berharap pada penjagaan ABK di pinggiran kapal, kita berdoa agar kapal cepat sampai dan bisa lebaran di Bangka,” ungkap Anton ketika ditemui Bangka Pos Group di asrama Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Bangka (ISBA) Jaya Jakarta, pada beberapa waktu lalu.

Sejak saat itu, Anton tak pernah lagi mau naik kapal perang. Segala upaya dilakukannya untuk menghindari transportasi laut tersebut. Anton kembali berdesakan-desakan serta antri sekian jam untuk mendapatkan tiket kapal untuk mudik.

Anton menceritakan menjadi penumpang KRI adalah situasi mendesak yang harus dilakoninya. Ia memilih sarana transportasi tersebut karena sesuai dengan isi kantongnya. Selainnya itu tidak adanya angkutan laut lainnya, seperti Pelni atau kapal feri Ro-Ro, membuat Anton tidak memiliki pilihan lain.

“Waktu itu jadwal libur enggak ada yang pas dengan jadwal kapal. Jadi terpaksa naik KRI yang jadwalnya sudah dekat lebaran. Saya tidak ingat itu terjadi tahun berapa?” ujarnya

Pengalaman berbeda dirasakan Tody, mahasiswa Bangka, yang ditemui ditempat yang sama. Menurutnya ada beberapa hal yang menjadi kelebihan KRI sebagai angkutan mudik. Pertama, ketepatan waktu dalam keberangkatan dan tibanya. Kebersihan kapal menjadi kelebihan lainnya disamping layanan yang super baik dari ABK.

“ABK nya ramah-ramah. Bahkan mereka rela memberikan kabin (kamar-red) untuk penumpang yang sudah berumur atau ibu-ibu yang bawa anak kecil,” kata Tody yang lalu berharap KRI bisa rutin melayani arus mudik ke Bangka.

Pernyataan senada diungkapkan Joni, mahasiswa Belitung, kepada wartawan harian ini di asrama Ikatan Kekeluargaan Pelajar Belitung (IKPB) Jakarta, pada beberapa waktu lalu. Dengan kelebihan-kelebihannya Joni pun sedikit sedih karena tidak bisa menumpang KRI yang sebelum tahun ini selalu melayani arus mudik ke Belitung. Katanya, mudik lebih nyaman dengan menggunakan KRI.

“Semoga tahun depan bisa mudik lagi dengan menggunakan KRI,” harap mahasiswa Universitas Nasional semester tiga ini. (*)

Iklan

Written by didit

5 Oktober, 2007 pada 2:07 am

Ditulis dalam 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: