It’s All About News

leave a comment »

NEWS ANALISIS
Laporan Wartawan Bangka Pos, M Ismunadi

Arbi Sanit
Pengamat Politik UI

Pangdam Tantang Kasdam

MANTAN Panglima Daerah Militer (Pangdam) Jakarta Raya Sutiyoso mendeklarasikan dirinya sebagai Calon Presiden (Capres) yang akan bertarung dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009. Saat menjabat ia sebagai Pangdam, Susilo Bambang Yudhoyono, yang sekarang menjabat sebagai Presiden RI, pada masa itu adalah Kepala Staf Daerah Militer (Kasdam) yang notabene bawahan Sutiyoso. Namun, seiring perjalanan waktu, posisi keduanya berubah, SBY dilantik sebagai Presiden sementara Sutiyoso menjadi Gubernur DKI Jakarta. Pada Pilpres mendatang petanya kemungkinan berubah lagi, mereka sama- sama kontestan merebut kursi Presiden RI. Ini berarti Pangdam menantang Kasdam.

SECARA prinsipal, deklarasi yang dilakukan Sutiyoso menggambarkan seorang panglima yang hendak melawan Kasdam. Itulah dibalik segala hal. Waktu dulu dia sebagai Panglima yang berada di atas SBY, namun kemudian berubah ketika SBY menjadi presiden. Dengan mencalonkan diri, semestinya SBY kalah sama dia. Tapi sepertinya itu terlalu besar pasak daripada tiang. Tidak sesuai dengan kemampuan yang ada.

Berdasarkan survei-survei, Sutiyoso berada jauh dibawah. Kalaupun ada 20 hingga 30 parpol yang mendukungnya, nasibnya tetap bakal buram. Apalagi kalau partai-partai itu adalah partai gurem. Dengan begitu, perjalanan ke depan, Sutiyoso akan sulit bersaing dalam Pilpres 2009. Dia sendiri memang bukan calon yang berasal dari Parpol.

Keberhasilan memimpin Jakarta menjadi modal? Itu diukur darimana? Sutiyoso hanya berhasil mengusir orang-orang miskin. Contohnya Peraturan Daerah (Perda) yang baru-baru ini saja. Itu lah keberhasilan yang diraihnya. Sutiyoso berhasil mengusir orang-orang lemah sementara orang-orang kaya tidak berhasil dikontrolnya.

Dengan kenyataan itu, bagaimana mungkin Sutiyoso merangkul para pendukung di daerah. Gambaran sebagai seorang diktator saat memimpin Jakarta membuat dia dilihat sebagai seorang pemaksa. Di zaman demokrasi seperti sekarang, Indonesia tidak bisa lagi dipaksa. Jadi bagaimana dia main tidak paksa kalau dia sendiri sudah terbukti sebagai seorang pemaksa.

Aksi pendeklarasian sendiri sudah merupakan suatu yang salah. Seharusnya Sutiyoso mendeklarasikan diri sebagai Capres seiring dengan pengunduran dirinya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Buktinya sekarang ini kan belum. Jadi secara prosedural saja sudah salah. (*)

Written by didit

1 Oktober, 2007 pada 2:25 am

Ditulis dalam 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: