It’s All About News

Freeport Lirik Yayasan Babel Hijau

leave a comment »

* Dukung Upaya Penghijauan Babel
* Undang Studi Banding

Laporan Wartawan Bangka Pos, M Ismunadi

JAKARTA — Kerusakan lingkungan Babel menarik perhatian salah satu perusahaan tambang terbesar di Indonesia. PT Freeport Indonesia, perusahaan tambang yang beraktifitas di pegunungan Jaya Wijaya, Irian Jaya, memberikan simpatinya.

Perusahaan modal asing tersebut menawarkan bantuan dalam rangka melakukan reklamasi terhadap lahan-lahan bekas tambang timah di Babel. Tawaran itu disampaikan Asisten Menteri Lingkungan hidup Rasio Ridho Sani kepada Yayasan Babel Hijau (YBH) di sela-sela presentasi visi, misi, strategi dan program YBH di gedung B kantor Kementerian Linkungan Hidup, Jakarta, Kamis (27/9).

“PT Freeport menawarkan kepada Yayasan Babel Hijau untuk melihat bagaimana reklamasi itu seharusnya dilaksanakan, salah satunya seperti yang dilakukan di pegunungan Jaya wijaya oleh Freeport. Untuk kunjungan itu, dananya sebagian akan diberikan oleh PTáFreeport sendiri,” ungkap Muhammad Rasyid Ridho, Humas Yayasan Babel Hijau, dalam siaran pers yang diterima Bangka Pos Group, Sabtu (29/9) malam.

Menyambutnya, YBH sangat antusias untuk segera merealisasikan tawaran tersebut. Apalagi sebelumnya, dalam pemaparan visi, misi, strategi dan program, Kementerian Lingkungan Hidup memberikan dukungan serupa. Sebagai langkah awal, YBH akan melakukan serangkaian penanaman tanaman sela di salah satu lahan reklamasi dalam waktu dekat ini.

“Kita harus berbuat untuk negeri ini, tanggal 3 Oktober 2007 nanti kita akan melakukan serangkaian penanaman tanaman sela Aloevera diantara tanaman reklamasi Timah yang ditanam beberapa waktu lalu di Kampung Jeruk Bangka Tengah yang merupakan bagian dari pemberdayaan ekonomi rakyat. Penanaman akan dihadiri oleh Gubernur Bangka Belitung,” katanya.

Sementara itu, menanggapi presentasi YBH, Asisten Menteri LH Rasio Ridho Sani, yang akrab disapa Roy, mengatakan lingkungan Babel memang perlu direhabilitasi akibat kerusakan yang timbul karena aktifitas penambangan. Menurutnya, penambangan di Babel ‘belum’, kalau tidak mau dikatakan tidak, sesuai dengan kriteria manajemen tambang yang sebenarnya. Bahkan termasuk PTáTimah yang katanya perusahaan kelas dunia. Kenyataan itu terjadi khususnya sejak eforia tambang rakyat tahun 1998.

“Hal ini lah yang menjadi penyebab utama totalnya kerusakan sebagian lingkungan di Provinsi Bangka Belitung. Oleh karena itu, pergerakan perkumpulan peduli lingkungan dalam sebuah bentuk Yayasan Babel Hijau ini suka ataupun tidak harus didukung oleh seluruh lapisan masyarakat Babel,” demikian dikatakan Roy di hadapan pengurus YBH yang hadir saat presentasi.

Roy melanjutkan, dengan kondisi lingkungan seperti telah dikatakannya, Babel tidak akan mungkin dinilai lebih baik daripada Jawa, Sumatera, dan Kalimantan dalam Gerakan Nasional Indonesia Hijau. Karena memang daerah tutupannya jauh lebih kecil dari daerah tersebut.

Guna mengatasinya, untuk daerah seperti Babel, yang akan lebih dinilai adalah effort atau usaha yang telah dilakukan dalam melakukan penghijauan. “Disinilah peran Yayasan Babel Hijau sebagai yayasan yang akan memotivasi seluruh komponen masyarakat dan instansi terkait untuk merealisasikan gerakan penghijauan ini dalam bentuk effort yang nyata,” tandasnya.

Sehubungan denga pemulihan lahan, Rasyid mengaku YBH gembira dengan sejumlah tindakan yang telah dilakukan PT Timah dan sejumlah perusahaan lainnya. Kata Rasyid, PT Timah telah mulai melakukan pemulihan lahan seluas 1600 ha dari sekitar 30.000 lebih hektar lahan yang menjadi kewajibannya.

Ada pula penghijauan yang dilakukan PTáDona Kembara di sekitar smelternya dengan disertai peternakan sapi perah. Pemerintah Daerah Bangka Tengah yang juga mulai merehabilitasi lahan pesisir dengan mangrovenya.

“Dinas Kehutanan yang di sela sela fungsinya sebagai instansi paling bertanggungjawab terhadap keberadaan hutan, mereka juga telah membuat himbauan perihal penghijauan melalui berbagai sarana media komunikasi. Artinya, ternyata isue lingkungan ini telah mendapat dukungan hampir di segala lapisan masyarakat,” tutur Rasyid seraya menambahkan dengan demikian YBH dapat melangkah lebih kedepan yaitu bagaimana gerakan penghijauan ini juga mampu memberikan manfaat berupa penguatan ekonomi kerakyatan melalui sektor ini.

Berbuat Demi Anak Cucu

SECARA terpisah, Ketua YBH Syahidil menyayangkan komentar anggota dewan yang menyangsikan keberadaan dan fungsi YBH. Meski demikian ia menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Sebab, YBH sendiri belum melakukan sosialisasi ke instansi instansi terkait, semisal DPRD, Pemda, serta perusahaan-perusahaan yang pada aktivitasnya secara signifikan berpengaruh terhadap lingkungan.

“Saya tak ingin menghabiskan energi untuk hal-hal seperti ini, dalam pikiran saya bagaimana, kita berbuat dan berbuat untuk anak cucu kita nanti,” kata Syahidil kepada Bangka Pos Group, Sabtu (29/9) malam.

Sekretaris YBH Muhammad Wirtsa Firdaus menambahkan sosialisasi belum dilakukan karena usia YBH yang baru seumur jagung. YBH baru dideklarasikan selama kurang lebih satu bulan.

“Dan sekarang sebagian besar dari kita sedang menjalankan ibadah SHAUM di bulan Ramadhan, jadi mungkin setelah lebaran kami akan mengagendakan silaturahmi ke instansi-instansi terkait. Saat ini yang kami kerjakan hanya hal-hal yang bersifat urgen dan bentuknya pun partial belum secara holistic (keseluruhan-red) dan sistematik seperti harapan kita semua,” pungkas Wirtsa du kesempatan yang sama. (*)

Written by didit

30 September, 2007 pada 3:04 am

Ditulis dalam 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: