It’s All About News

leave a comment »

* Jelang Ramadhan 1428 H
MUI Awasi Perselingkuhan

Laporan Wartawan Bangka Pos, M Ismunadi

JAKARTA — Menyambut bulan suci Ramadhan 1428 H, Majelis Ulama Indonesia (MUI) membentuk Komisi Fikom (Informasi dan Komunikasi) dan Fatwa. Badan ini bertugas memantau tayangan media eletronik dan cetak selama bulan puasa. MUI menghimbau agar tayangan yang mengandung intrik keluarga, perselingkuhan ataupun perceraian direm selama puasa. Begitu pula dengan program acara yang bertemakan seksualitas, kekerasan, maupun klenik.

“Selama ini kita menerima keluhan masyarakat tentang tayangan- tayangan tersebut. Karenanya, menyambut puasa kali ini, MUI meminta kalangan televisi dan media cetak untuk direm,” seru Ketua MUI Umar Shihab di Kantor MUI, Kompleks Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (8/9).

Himbauan yang disampaikan Umar berdasarkan pertemuan MUI dengan sejumlah organisasi Islam di kantor MUI, kemarin. Disamping itu, MUI juga meminta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Lembaga Sensor Film (LSF) agar lebih gigih dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Tidak hanya lebih jeli melaksanakan penyensoran terhadap tayangan gambar film dan sinetron, tapi juga dialog di dalamnya.

Lebih lanjut, Umar, yang didampingi Sekretaris Umum MUI M Ichwan Sam, menambahkan pemerintah turut diminta berpartisipasi menjelang bulan ramadhan. Seperti sebelum-sebelumnya, MUI mengharapan pemerintah menutup dan menertibkan tempat-tempat hiburan dan rumah makan di siang hari. Serta melarang kebiasaan burung membunyikan petasan.

“Perbedaan dalam pernyataan kita untuk menutup dan menertibkan itu, misalnya yang perlu ditutup seperti restaurant yang buka di siang hari, lokalisasi, WTS, serta panti pijat. Yang perlu ditertibkan, misalnya orang yang merokok di tempat umum, terutama di siang hari,” ujarnya.

Sehubungan dengan penertiban, Umar mengaku tidak setuju dengan aksi sejumlah organisasi Islam yang kerap melakukan aksi sweeping terhadap restaurant atau tempat-tempat yang diduga sarang maksiat selama bulan puasa. Kendati demikian, sepengetahuannya, sejauh ini MUI belum pernah memanggil atau menegur organisasi tersebut.

Umar menyebutkan MUI sebatas memberikan himbauan agar tempat-tempat yang telah disebutnya untuk ditutup atau ditertibkan selama puasa. Sedangkan tindakan penutupan dan penertiban diserahkan diserahkan kepada aparat berwajib atau yang berwenang.

“Jika ada reaksi kekerasan, kita tetap menolak,” tegas Umar.

Tunggu Sidang Isbat

Disinggung awal bulan puasa untuk tahun ini, Umar mengatakan umat Islam diminta menunggu hasil sidang Isbat yang akan diselenggarakan Selasa (11/9) malam mendatang. Sidang yang bakal dipimpin langsung Menteri Agama Maftuh Basuni itu diharapkan bisa menjadi acuan masyarakat.

“Saya memang berkepercayaan kalau bulan akan belum nampak pada malam itu. Tapi kalau Allah menghendaki, apapun bisa terjadi. Jadi kita lihat saja sidang Isbat nanti,” tuturnya.

Sekretaris Umum MUI M Ichwan Sam menambahkan pada prinsipnya MUI tidak mempermasalahkan bila nanti terjadi perbedaan pelaksanaan awal puasa. Perbedaan, katanya, dianggap sebagai rakhmat.

Terkait tugas Komisi Fikom dan Fatwa, Ichwan menyebutkan hasilnya akan menjadi bahan evaluasi MUI. “Beberapa waktu lalu kita telah menyampaikan keluhan masyarakat dalam pertemuan antara KPI, LSF, asosiasi televisi swasta lokal, akademisi, dan beberapa pihak lainnya. Nah untuk hasil pemantauan di bulan ramadhan nanti, itu akan menjadi bahan evaluasi di masa yang akan datang,” pungkas Ichwan. (*)

Written by didit

8 September, 2007 pada 3:16 pm

Ditulis dalam 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: