It’s All About News

leave a comment »

* Tren Hepatitis C Meningkat
Depkes Kumpulkan Data di 11 Propinsi

Laporan Wartawan Bangka Pos, M Ismunadi

JAKARTA — Departemen Kesehatan RI memperkirakan sedikitnya tujuh juta warga Indonesia terjangkiti penyakit hepatitis C. Trend penyakit tersebut pun dikatakan meningkat setiap tahunnya. Oleh karena itu, Depkes bekerjasama dengan PT Roche Indonesia akan melakukan pengumpulan data yang bakal ditindaklanjuti dengan aksi konkret pencegahan Hepatitis C.

Direktur Jenderal P2PL Depkes RI dr I Nyoman Tandun mengatakan perkiraan jumlah penderita hepatitis C didapat dari data pengidap Hepatitis B. Menurut Nyoman, hepatitis C banyak tidak dilaporkan karena termasuk epidemi yang terselubung.

“Sesungguhnya Depkes telah melihat ancaman dari penyakit ini ketika dia termasuk dalam daftar penyakit yang harus diawasi pada pertengahan tahun lalu. Nah, dengan kerjasama yang dimulai hari ini (kemarin-red), kita bergerak menuju langkah berikutnya yaitu mendapatkan angka pasti jumlah penderita penyakit ini. Untuk awalnya, kita akan melakukan surveilans di 11 Propinsi,” ungkap Nyoman saat ditemui usai membuka lokakarya Program Surveilans Nasional Hepatitis C di hotel Century, Jakarta, Jumat (7/9).

Nyoman menjelaskan dengan menggunakan metode random, Depkes memilih 13 rumah sakit, 24 laboratorium, dan 11 Unit Transfusi Darah (UTD) di 11 Propinsi yang ada. Tempat-tempat yang berstatus milik pemerintah dan swasta itu akan digunakan sebagai pusat pengumpulan data.

“Tahap pertama akan dilaksanakan selama satu tahun. Selanjutnya, surveilans akan dilakukan di tempat-tempat lainnya,” ujarnya.

Hepatitis C sendiri adalah virus yang disebarkan melalui kontak dengan darah atau produk darah yang menyebabkan peradangan dan kerusakan sel hati. Mayoritas pasien, lanjut Nyoman, tidak memiliki gejala selama bertahun kemudian. Tetapi diperkirakan sebesar 30 persen dari penderita akan berkecenderungan menjadi sirosi hati yang fatal jika tidak diobati selama lebih dari 20 tahun.

Ditambahkan Nyoman, hepatitis C belum memiliki vaksin seperti halnya hepatitis A atau hepatitis B. Karenanya, surveilans disebutkan Nyoman sebagai langkah awal untuk mencari obat terhadap penyakit tersebut.

“Tapi untuk masalah obatnya, itu nanti urusan para penelitinya. Sementara kita akan berusaha mengumpulkan data hingga dapat menentukan langkah penanganan selanjutnya,” tandas Nyoman.

Ketua Pelaksana Program Surveilans Nasional Hepatitis C Hari Santoso menyebutkan 11 propinsi yang menjadi sasaran program antara lain Papua, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Bali. Beberapa rumah sakit yang dijadikan pusat pengumpulan data yaitu RS Santo Corolus dan RSCM di Jakarta, RS Hasan Sadikin dan Boromeus di Bandung, serta RS Karyadi di Jawa Tengah.

“Dari tempat-tempat itu, mereka akan mengirimkan data kepada kita tentang penderita Hepatitis C. Kita juga tidak sekedar mendata jumlah penderita, tapi juga menelusuri riwayatnya untuk mengetahui secara pasti jumlah penderita. Misalnya, seorang penderita terkena hepatitis lewat jarum suntik, kita akan menelurusi kalau-kalau ada penderita lain,” imbuh Hari ketika ditemui di tempat yang sama, Jumat (7/9). (*)

Iklan

Written by didit

7 September, 2007 pada 3:24 pm

Ditulis dalam 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: