It’s All About News

Gerhana Bulan Total Terlihat Sebentar

leave a comment »

* Tertutup Mendung dan Gedung

Laporan Wartawan Bangka Pos, M Ismunadi

MENDUNG di ufuk timur membuat para pengunjung Planetarium Jakarta di Jalan Cikini Raya , Jakarta Pusat, sedikit kecewa, Selasa (28/8). Letak Planetarium yang lebih tinggi dan terhalang teater kecil Taman Ismail Marzuki membuat gerhana bulan total tidak bisa dilihat sebagaimana dijadwalkan yaitu pukul 17.51 WIB. Para pengunjung hanya bisa melihat gerhana yang akan terjadi pada 18 tahun mendatang itu ketika bayangan bumi mulai beranjak dari bulan yang terlihat kemerahan.

“Nah itu nak kelihatan gerhananya. Tapi sayang ya cuma kelihatan sedikit,” ujar seorang ayah yang mendampingi putranya di lantai 1 Planetarium Jakarta, Selasa (28/8) sekitar pukul 18.40 WIB.

Planetarium Jakarta mulai dipadati pengunjung sejak pukul 17.30 WIB. Mereka yang berasal dari sejumlah daerah di Jakarta, ada yang datang dengan membawa anak dan cucunya. Bahkan serombongan siswa dari salah satu SMA di Jakarta telah berada di Planetorium dari pukul 15.00 WIB.

Di planetorium, para pengunjung bisa mengamati gerhana bulan total dengan menggunakan teleskop atau layar lebar yang disediakan di lantai satu. Keterbatasan teleskop membuat para pengunjung harus bergantian melihat gerhana bulan dari teleskop.

“Di sini kita menyediakan tiga teleskop manual yang bisa digunakan pengunjung. Dan ada dua teleskop statis yaitu Takashi dan Code. Kedua teleskop statis digunakan untuk melakukan pemotretan dan menampilkan gerhana di layar lebar yang ada di lantai I,” ujar Widya Suwitar, ketua Himpunan Ahli Astronomi Jakarta (HAAJ) di Planetorium Jakarta, Selasa (28/8).

Selain itu, pengunjung yang berjumlah sekitar 200 orang itu juga harus bergantian untuk naik ke lantai atas Planetorium guna menggunakan teleskop yang disediakan. Mereka bergantian demi keselamatan masing-masing dimana langit-langit planetorium ditakutkan tidak mampu menahan beban yang berat.

Widya menyebutkan gerhana bulan berbeda dengan gerhana matahari. Gerhana bulan bisa dilihat masyarakat tanpa alat pelindung seperti yang digunakan bila melihat gerhana matahari. Dan bagusnya lagi, gerhana bulan total bisa dilihat dengan mata telanjang.

“Itu lah uniknya gerhana bulan total. Tahun depan gerhana bulan total juga akan terjadi di bulan Februari. Tapi Indonesia tidak bisa menikmatinya. Dan untuk kondisi seperti sekarang ini, dimana terjadi gerhana bulan total, baru akan terjadi lagi 18 tahun mendatang,” tandasnya.

Beragam alasan diungkapkan para pengunjung yang mengunjungi platenorium Jakarta. Ada yang ingin melihat gerhana tanpa alat bantu seperti wadah yang diisi dengan air. Ada pula yang ingin melihat lebih spesifik fenomena alam itu dengan menggunakan alat yang ada di planetorium.

“Saya bela-belain dengan dua anak saya ini naik motor dari Slipi, Jakarta Barat, ke sini untuk lihat gerhana bulan mas. Enggak apa- apa sih sekalian untuk pembelajaran anak saya yang sudah kelas empat SD ini,” ujar Ita sembari mengelus putranya di lantai atas Planetorium Jakarta, Selasa (28/8).

Menurut Ita, melihat langsung akan menjadi pembelajaran yang sangat baik bagi anaknya. Karenanya, perempuan yang berstatus sebagai guru SD di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, ini sedikit bersyukur karena gerhana bulan belum terlihat ketika ia tiba di planetorium sekitar pukul 17.30 WIB.

Perasaan antusias juga ditunjukkan Tristan (5), warga Lebak Bulus, Jakarta Selatan, yang datang bersama neneknya. Sembari membawa teleskop yang dibelikan ayahnya, Tristan ingin melihat gerhana dari alat teropong yang sering digunakannya untuk melihat bintang dan bulan dari kediamannya.

Kesenangan Tristan terhadap dunia astronomi juga membuat neneknya, Sucipto, merelakan waktu untuk menemaninya ke Planetorium. Sucipto sempat khawatir karena mereka belum diizinkan naik ke lantai atas oleh pihak keamanan Planetorium.

“Ini teleskop sengaja dari rumah untuk melihat gerhana ini mas. Selain itu Tristan kan masuk HAAJ, jadi dia diminta untuk membawa teleskop ini untuk sekalian diajarkan bagaimana menggunakannya,” imbuh Sucipto.

Hingga tadi malam, sekitar pukul 19.00 WIB, puluhan pengunjung terus mendatangi Planetorium Jakarta. Kendati bayangan bumi semakin meninggalkan bulan yang terlihat mulai terang, para pengunjung terlihat berlarian menuju pintu masuk planetorium. (*)

Written by didit

28 Agustus, 2007 pada 9:27 pm

Ditulis dalam 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: