It’s All About News

Gajah Sumatera dan Kalimantan Terancam Punah

leave a comment »

* Komitmen dan Kerjasama Tentukan Keberhasilan

Laporan Wartawan Bangka Pos, M Ismunadi

JAKARTA — Kelestarian gajah Sumatera dan Kalimantan (Elephas maximus) serta harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) saat ini sangat terancam. Populasi gajah Sumatera pada 2007 diperkirakan tersisa 2400-2800 individu, turun sekitar 35 persen dari tahun 1992 yang jumlahnya 2800-5000 individu. Sementara itu, populasi harimau Jawa dan Bali, yang termasuk subspesies harimau dunia yang telah punah dari muka bumi dalam tujuh dekade terakhir ini, mengalami penurunan sekitar 40 persen dari sebaran harimau dunia. Diperkirakan saai ini Harimau Sumatera jumlahnya tersisa sekitar 400 individu saja.

Untuk menjaga kelestariannya, Departemen Kehutanan menggelar sebuah lokakarya nasional guna menentukan strategi dan rencana aksi. Lokakarya yang diselenggarakan berkat kerjasama dengan beberapa departemen dan organisasi konservasi ini diadakan di Padang, Sumatera Barat pada 29-31 Agustus 2007. Acara yang akan diikuti 120 peserta dari dalam dan luar negeri ini bertajuk Lokakarya Penyusunan Strategi Konservasi & Rencana Aksi Gajah Sumatra dan Kalimantan serta Harimau Sumatera.

Koordinator Tiger Progam Wildlife Conservation Society (WSC), Hariyo T Wisiono, mengatakan tingginya laju kerusakan habitat, perubahan tataguna lahan, dan tingginya tingkat perburuan dan konflik menjadi faktor langsung maupun tidak langsung turunnya populasi kedua satwa dilindungi tersebut.

“Oleh karena itu dalam lokakarya ini diharapkan seluruh pemangku peran, baik lembaga konservasi maupun Pemda, perusahaan, dan masyakarat, dapat berdiskusi membangun strategi dan segera melakukan aksi nyata penyelamatan kedua satwa dilindungi tersebut,” ungkap Hariyo dalam pers release yang diterima Bangka Pos Group, Senin (27/8).

Sehubungan dengan penyelematan harimau dan gajah Sumatera serta Kalimantan tersebut, Koordinator Program Konservasi Gajah WWF-Indonesia, Elisabet Purastuti menyebutkan penyelamatan populasi harimau dan gajah sangat tergantung dengan penyelamatan habitat hutannya yang masih tersisa. Pembukaan hutan yang memiliki nilai-nilai penting bagi harimau dan gajah, lanjutnya, harus segera dihentikan.

“Dan sudah saatnya tata guna lahan dibangun dengan mengakomodir aspek-aspek ekologis guna mencegah konflik berkepanjangan antara manusia dan satwa liar”, kata Elisabet.

Ditambahkannya, data Citra Satelit menunjukkan bahwa hutan dataran rendah Sumatera menyusut drastis sekitar 8 juta hektar antara tahun 1990- 2000, mengakibatkan hilangnya habitat satwa liar dan memicu terjadinya konflik dengan manusia.

Sementara itu, Wahdi Azmi, Koordinator Program Konservasi Gajah Sumatra, FFI, berharap protokol penanganan konflik antara harimau dan gajah dengan manusia yang komprehensif dan mengakomodir aspirasi berbagai kepentingan dapat disepakati dalam lokakarya mendatang. Menurutnya protokol itu sangat mendesak untuk segera disepakati dan diimplementasikan mengingat maraknya konflik yang terjadi akhir-akhir ini.

“Antara tahun 2002 s/d 2007 tercatat sedikitnya 42 orang meninggal dan 100 ekor gajah mati akibat konflik. Karena pada kenyataannya wilayah jelajah harimau dan gajah juga banyak terdapat di luar kawasan konservasi, maka perlu adanya pengembangan manajemen satwa di areal konsesi perkebunan, HTI, dan lahan masyaraka,” kata Dolly Priatna, co-manager Zoological Society of London (ZSL), Indonesia. (*)

Iklan

Written by didit

27 Agustus, 2007 pada 11:39 pm

Ditulis dalam 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: